Bangsa yang besar dicirikan oleh masyarakat yang berpendidikan, memiliki peradaban yang tinggi, dan secara aktif menggerakkan masyarakat dunia ke depan. Literasi dalam konteks ini tidak hanya berarti bagaimana suatu bangsa membebaskan diri dari buta huruf, tetapi lebih dari itu bagaimana warga bangsa tersebut memiliki kemampuan untuk bekerja sama, berpikir kritis, kreatif dan komunikatif agar dapat bersaing dan hidup berdampingan dengan bangsa lain untuk berkreasi. Keterampilan literasi dalam membaca dan menulis merupakan dasar dari keterampilan literasi yang harus dikuasai untuk membantu kelancaran dalam keterampilan literasi lainnya. Membaca adalah aspek lain untuk memperoleh informasi dan pengetahuan. Jadi literasi menjadi bagian penting dalam memperoleh pengetahuan. Melalui literasi, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengembangkan karakternya.
Gerakan literasi nasional yang dicanangkan pada tahun 2016 bertujuan untuk mewujudkan literasi yang terintegrasi penuh antara masyarakat, keluarga dan sekolah. Sekolah memiliki peran penting dalam pemberantasan buta huruf. Literasi sekarang bukan hanya tentang mengembangkan kemampuan membaca dan menulis. Pada abad ke-21, pemahaman bacaan terkait dengan persyaratan pemahaman bacaan, yang mengarah pada perolehan informasi analitis, kritis, dan reflektif.
Gerakan Literasi Sekolah merupakan upaya melibatkan semua pihak di lingkungan sekolah untuk mendukung kegiatan literasi dari kepala sekolah, komite, pengawas, guru, siswa, orang tua dan masyarakat sekitar. Perkembangan budaya literasi sejalan dengan perkembangan karakter dan budi pekerti dalam ekosistem sekolah. Tujuannya adalah untuk mengembangkan budaya membaca dan menulis sebagai dasar dari proses belajar sepanjang hayat.
Literasi baca-tulis siswa mencerminkan pengetahuan mereka. Siswa yang literat memiliki potensi untuk memperoleh berbagai pengetahuan untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, siswa yang aliterat akan mengalami kesulitan hidup, terutama di bidang akademik.
Oleh karena itu, siswa perlu mengembangkan kemampuan literasinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa Indonesia kurang mahir dalam keterampilan membaca dan menulis, terutama dalam memahami bacaan. Hal ini terlihat dari hasil tes pemahaman bacaan internasional. Tes ini mengukur aspek pemahaman, penggunaan, dan refleksi hasil membaca tertulis. Pengujian ini dilakukan PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study) tahun 2011. Berdasarkan data tersebut, Indonesia menduduki peringkat ke - 45 dari 48 negara peserta dengan skor 428 dari skor rata-rata 500. Sementara itu, uji literasi membaca dalam PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2009 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-57 dengan skor 396 dari skor rata-rata 493. Pada PISA 2012 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-64 dengan skor 396 dari skor rata-rata 496. Sebanyak 65 negara telah berpartisipasi dalam PISA 2009 dan 2012. (Dirjen Dikdasmen, 2016 : i)
Banyak faktor yang menurunkan kemampuan literasi baca-tulis siswa. Hal ini terkait dengan budaya lisan yang lebih mendominasi di lingkungan siswa daripada membaca dan menulis. Siswa lebih tertarik mencari informasi dengan memakai menyimak tontonan daripada membaca tulisan. Di lingkungan sekolah, siswa memiliki literasi yang buruk karena tidak mengetahui manfaat dari kegiatan membaca dan menulis. Pembelajaran baca-tulis belum terlalu berhasil karena tidak efektifnya pengajaran membaca dan menulis di kelas dan terbatasnya jumlah dan kualitas buku referensi. Selain itu, sekolah mengalami stagnasi apresiasi untuk sarana mengkomunikasikan bakat literasi mereka, seperti majalah dinding, buletin, majalah sekolah, surat kabar, buku sastra, blog, dan situs web sekolah.
Membaca dan menulis sebagai keterampilan literasi harus ditekankan oleh siswa sejak dini. Selain itu, minat membaca dan menulis siswa menentukan kualitas wawasan. Dalam proses pendidikan, keberhasilan mereka sangat ditentukan oleh literasi mereka.
Kehadiran perpustakaan yang representatif sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan literasi baca-tulis. Kuantitas dan kualitas buku referensi di perpustakaan sangat penting. Sehingga semua sekolah membutuhkan perhatian untuk mengembangkan berbagai literasi membaca non-buku pelajaran (cetak, visual, auditori, digital) untuk mengembangkan lingkungan fisik, sosial, emosional, dan akademik.
Jadi, untuk meningkatkan kemampuan literasi baca-tulis di kalangan peserta didik bisa menjalankan kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Sehingga peserta didik akan mengalami pembiasaan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai setiap hari.
Meskipun kegiatan membaca 15 menit ini dianggap sepele bagi banyak orang. Tetapi kegiatan ini dapat menentukan masa depan negara. Semoga program ini dapat dilaksanakan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Pada akhirnya, kami berharap bahwa hasil tes PISA dan PIRLS internasional siswa akan sebanding dengan yang ada di negara maju. Mari luangkan setidaknya 15 menit untuk membaca dan jadikan kegiatan ini sebagai ibadah bagi kita untuk mencari ilmu.




6 Komentar
Mantap!
BalasHapusSangat bermanfaat sekali!
Terima kasih!
HapusSemangat membaca dan menulis, salam literasi.
BalasHapusSalam
HapusKeren keren , membangkitkan aura membaca wkkwkw
BalasHapusSiip
Hapus